Pada dasarnya kita memang hidup di ambang ketidakpastian, dan semua balik lagi ke diri kita bagaimana cara kita menghadapi ketidakpastian itu.
Karna yang paling pasti itu cuma satu, kematian.
......................................................................................................................................................................It's been 2 years since the last writing, woah so busy last year, and a lot of things happenned.
Udah 2022 aja nihh 😂
Tahun lalu asli kerjaan gue udah kaya absnya anak 2PM aka padet bangettt hahaha. mana dikantor ngadain 2 event besar dan di 2 event itu gue dilibatkan buat jadi narsum. haduuuuu, untuk event pertama ya okelah yaa, masih bisa dikatakan lancar. tapi buat event kedua beuhhh i messed up, i really did. gausah dibahas deh sedih yet fun.
enough about work, let's write about love life.
like i said earlier, a lot of things happened and it was unpredictable.
August 2021,
seseorang menghubungi gue lewat instagram, menanyakan kabar blablabla dan gue respon secukupnya waktu itu dan memang gada pikiran buat ke arah mana-mana. dan gak gue sangka dm itu berlanjut terus sampe akhirnya dia minta wa gue. di wa juga chat, kontinu. sampe akhirnya gue mulai mempertanyakan apa maksudnya waktu itu. and well at that time, there's spark between us, gue dan dia nyambung banget kala itu.
September,
we decided to commit a relationship. dan gue sudah bilang di awal kalo gue mau jalanin ini dengan serius dan ke arah pernikahan. IT'S A DEAL.
November 1st,
my birthday, untuk pertama kalinya gue dan dia ketemu. a bit awkward, but it was fun.
he dared to meet my parents, anterin gue bener-bener sampe rumah, disitu gue lihat bahwa 'okay, this is the first time i have a real relationship with a man, and he seemed serious tho', gimana reaksi orang tua? ya seneng bukan main, gue? ya seneng dan takut. takut ini terlalu awal, takut dengan segala kemungkinan yang bisa aja terjadi..
2 minggu ketemu, gue bener-bener bisa lihat how serious this person with me. pedulinya dia. gue bisa dapetin itu, sesuatu yang gak pernah gue dapetin sebelumnya kecuali dari orang tua gue.
kalo sahabat mah beda level dong pedulinya 😁
everything feels too good to be true, isn't it?
December,
gue dan dia sempet ribut, sesaat, perkara kecil, tapi sudah terselesaikan.
1-2 minggu kemudian dia bilang:
'Aku sepertinya masih jauh buat ke arah sana'
'Banyak yang masih aku kejar'
'Kalo dapet penempatannya jauh gimana'
Gue cuma bisa diem, speechless, gatau mau ngomong apa.
Pikiran gue udah mau meledak kaya 'apa lagi ini?'
sedangkan gue pun gak pernah lagi ngomongin soal 'nikah' setelah awal-awal hubungan berjalan.
am i putting too much pressure? hey that fuckin pressure is on me!
keesokan harinya,
dia masih hubungin gue, dan dia cuma mau jawaban gue seperti apa karna keadaannya kaya gitu.
there's an urge from myself, that this is worth to fight. so i decided to fight.
dan pada saat itu sepakat untuk masih menjalani dan bertahan sampai 2 hari kemudian..
'hati aku bergejolak, aku udah solat, aku udah minta'
deg
gue bangun sambil bilang 'ya allah tolong ini mimpi'
jam 6 pagi yang cerah, gue merasakan diri gue kaya ditarik blackhole, jatuh sejatuh jatuhnya, rasanya mau hilang dari dunia.
'aku gamau ngasih harapan ke kamu, aku gamau kasih kamu ketidakpastian'
'apa gue gak layak buat lo? apa ada orang lain?'
gue sampe meragukan value gue, demi orang yang terlalu takut untuk menghadapi ketidakpastian di dunia ini.
....
gue benar-benar hancur saat itu, gak bisa berbuat apa-apa, selain nangis.
disaat gue udah mengalah, dia bisa-bisanya bilang 'mau kasih jalan buat yg lain',
dia buat ini seakan-akan jalan Allah, tapi buat gue, iya gue percaya ini jalan Allah, tapi pasti ada trigger dari semua itu kan? trigger itu semua dari dirinya dia, atau ada external factor? gue gatau.
i don't know, did he realize it, what he did to me is exactly same as what his ex did to him.
tapi gue amat sangat bersyukur masih ada temen-temen gue yang mau dengerin cerita gue waktu itu.
Allah gak akan kasih cobaan, kalo Allah rasa kamu gak mampu melewatinya.
bahkan gue butuh waktu buat kasih tau ke orang tua gue, gue paling gamau liat mereka sedih, kecewa. karna gue tau harapan mereka udah besar banget sama gue.
gue selalu berharap semoga gue selalu diberi ikhlas dan lapang dada atas semua yang udah terjadi, karna bukan cuma dia yang mau jalan, gue pun juga mau jalan, entah bakal seperti apa jalan itu.
dan gue juga selalu berdoa gue dan dia selalu diberikan kebahagiaan dan jalan terbaik but...
but i still trying to choose to do a good thing, masa transisi kali ini berat banget. it hurts me so much and all i can do is pray.
berserah aja sama Sang Pemilik Hati, toh kalo bukan sama dia pasti dikasih yang lebih baik, bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita kan?

Comments
Post a Comment